Pernah ga kita berfikir benarkah kalo kita itu hidup sudah digariskan? Banyak terjadi kontroversi tentang takdir. Sebagai umat Islam saya percaya bahwa takdir itu ada. Tapi ada orang yang menyangkal, jika kita sudah memiliki takdir berarti kita kaya boneka dong. Yang dimainkan takdir Sang Pencipta. Jadi apa gunanya kita hidup?
Masih ingat ga, waktu masih SD, SMP atau SMA. Saat ulangan kita dihadapkan dengan soal pilihan ganda. Misalkan pertanyaan pertama kita pilih A, terus nomer selanjutnya kita pilih C, dan seterusnya. Kita menjawab pertanyaan tersebut berdasar pilihan kita, pegetahuan kita, dan ego kita. Kadang kita bimbang antara dua jawaban, ini A bener tapi B juga kayaknya bener (biasanya kita temukan pada soal PPKN, Agama, Bahasa atau ilmu "tak pasti" lainnya). Nah pada akhirnya, nilai yang akan menentukan.
Contoh lain, pernah ga baca Ghostboom yang seri petualanan. Disitu kita bisa menentukan jalan cerita sesuai pilihan kita. Pada saat kita berhadapan dengan monster kita diberi 2 pilihan oleh penulis. Pilihan pertama kita hadapai moster itu. Pilihan kedua kita lari. Nah setiap pilihan kita akan di arahkan ke halaman berbeda. Pilihan pertama kita disuruh loncat ke halaman X, sedang pilihan ke dua ke halaman Y. Nah dari pilihan ini kita akan mendapatkan cerita dan ending yang berbeda.
Itu contoh mudahnya aja. Hidup itu sudah ditakdirkan. Tapi kita berhak memilih takdir kita. Dengan menjawab, merencanakan, mengambil keputusan. Seperti kita membuka mata kita pagi hari. Kita sudah dihadapkan dengan pilihan kita, mau Sholat Shubuh atau tidur lagi. Mau bikin makanan atau mandi dulu. Saat kita berangkat kita mau lewat jalan yang mana. Dijalan kita ketemu sama seseorang, kita mau menyapa atau enggak. Ntar ada yang jatuh dompetnya, kita kembalikan atau tidak. Siapa tahu kalau kita kembalikan ntar ternyata dia orang penting dan dia bisa menaikkan karir kita. Itu akan menentukan takdir kita. Dan semua pilihan kita itu Sang Pencipta sudah menuliskan, dan tahu akhir dari setiap option tersebut. "Sesungguhnya Allah SWT tidak akan merubah nasib suatu qaum sehingga mereka merubah nasibnya sendiri", dari kalimat tersebut dapat disimpulkan jika manusia bisa menentukan nasibnya.
Tentang Jodoh
Ini dia satu lagi pendapat saya. Kita itu manusia, punya kebebasan berpendapat. Orang yang aku alami tidak seperti yang orang lain alami, apa yang aku rasakan juga tidak orang lain rasakan, begitu juga dengan apa yang aku fikirkan. Setiap orang punya pandangan sendiri pada suatu hal.
Semua orang itu berjodoh, jadi aku tidak mengenal kata "belum jodohnya" atau kalau memang "bukan jodoh". Kita dipertemukan itu adalah jodoh. Sekarang tinggal cara kita menyikapinya. Apakah kita akan terus atau mundur. Kembali ke "takdir" tadi. Kita dihadapkan pada pilihan, bisa saja pacar pertama kita akan menjadi istri/suami kita. Kalau kita mau kenapa tidak?. Kita lagi jalan ketemu sama seseorang, kita kenalan. Itu jodoh. Sekarang kita mau melanjutkan atau mundur?. Kalau kita lanjut mungkin dia akan menjadi pasangan kita, dan kita akan mendapatkan cerita yang baru. Kalau kita mundur, maka kita juga sudah disiapkan cerita yang lain oleh Sang Pencipta.
Tentang cinta ditolak. Itu juga tidak berarti kita tidak jodoh. Tetapi dia juga manusia, dia juga dihadapkan pada pilihannya sendiri. Bisa saja dia menerima kita. Tapi mungkin ada beberapa aspek, sehingga di tidak melakukannya. Kita sama-sama manusia ko, sama-sama berhak memilih.
Jadi kita harus berhati-hati dalam memilih, dan mengambil keputusan. Berfikirlah secara bijak. Semua yang diawali dengan kebaikan akan berakhir dengan baik juga. Mungkin tidak didunia, tapi Allah pasti akan merevisi nilai-nilai kita yang seharusnya bagus, dengan ganjaran SurgaNya.
Nah Takdir menurut aku, tidak sekedar sebuah jalan yang kita tempuh. Tapi banyak jalan yang bercabang-cabang yang kita dipersilahkan memilih jalan kita. Sampai akhirnya kita mendapatkan putusan akhir. Sebuah kematian. Dan Allah sudah menuliskan dan mengetahui akhir dari setiap pilihan kita. Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa, sangatlah tidak pantas bagiku menebak pikiran Allah. Ya Allah, sesungguhnya ini hanyalah pendapat hamba untuk menyikapi hidup ini ya Allah. Untuk menjadi manusia yang lebih baik.



0 comments:
Post a Comment